ESC : ( Tutup Form )

Mantan Pejabat CIA Tersandung Kasus Emas, FBI Temukan 303 Batang di Rumah


Selasa, 15  September  2026 - 22:23 WIB

Mantan Pejabat CIA Tersandung Kasus Emas, FBI Temukan 303 Batang di Rumah
Foto Berita

WASHINGTON - Kasus yang menyeret mantan pejabat senior Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA), David Rush, memasuki babak baru. Rush disebut telah menyatakan bersalah dalam perkara yang melibatkan emas batangan, uang tunai valuta asing, serta dugaan penyalahgunaan informasi dan program rahasia.


Jaksa federal AS bersama tim hukum Rush telah mencapai kesepakatan awal terkait pengakuan bersalah (plea agreement in principle). Proses hukum tersebut berlangsung setelah penyelidikan internal CIA berkembang menjadi investigasi kriminal oleh Federal Bureau of Investigation (FBI).


Perkara ini mulai mencuat pada Mei 2026 ketika Rush ditangkap. Dalam penggeledahan di kediamannya di Virginia, agen federal menemukan aset dalam jumlah besar yang disimpan di ruang bawah tanah.


Berdasarkan dokumen afidavit FBI, penyidik menyita 303 batang emas dengan berat masing-masing sekitar satu kilogram. Total nilai emas tersebut diperkirakan lebih dari US$40 juta, atau sekitar Rp704 miliar dengan asumsi kurs Rp17.600 per dolar AS.


Tidak hanya emas, aparat juga menemukan sekitar US$2 juta dalam berbagai mata uang asing. Sebanyak 35 jam tangan mewah juga turut disita, termasuk sejumlah jam tangan merek Rolex.


Dokumen penyidikan menyebut Rush diduga memanfaatkan jabatannya untuk membuat sebuah program rahasia yang sebenarnya tidak memiliki dasar operasional yang sah.


Dalam periode akhir 2025 hingga awal 2026, ia diduga menggunakan program tersebut sebagai alasan untuk memperoleh pendanaan yang kemudian diwujudkan dalam bentuk emas dan uang asing.


Namun, pejabat intelijen yang diperiksa penyidik menyatakan tidak menemukan kebutuhan operasional yang dapat membenarkan penggunaan dana tersebut.


Pada persidangan penahanan Juni lalu, hakim magistrat AS William Fitzpatrick memutuskan Rush tetap berada di balik jeruji tanpa jaminan. Pertimbangannya antara lain risiko Rush melarikan diri yang dinilai serius.


Pengalaman operasional, kemampuan menghindari deteksi, serta sumber daya finansial yang dimilikinya menjadi faktor yang diperhatikan dalam keputusan tersebut.


Masalah hukum Rush ternyata tidak berhenti pada dugaan penyalahgunaan dana. Ia juga menghadapi tuduhan terkait pembayaran cuti militer secara tidak sah yang nilainya mencapai sekitar US$77.000.


Menurut dokumen pengadilan, Rush dilaporkan mencatat 744 jam cuti militer yang sebenarnya tidak menjadi haknya dalam dokumen absensi setelah meninggalkan Angkatan Laut AS pada 2015.


Penyidik FBI kemudian menemukan persoalan lain dalam riwayat pendidikan dan militernya. Selama proses perekrutan dan pengajuan izin keamanan, Rush disebut berulang kali memberikan informasi yang tidak benar mengenai latar belakangnya.


Pemeriksaan tidak berhasil mengonfirmasi klaim bahwa dirinya memiliki gelar dari Clemson University dan Rensselaer Polytechnic Institute.


Penyidik juga menyebut sejumlah pengalaman yang dicantumkan Rush dalam mengejar jabatan senior ternyata tidak dapat diverifikasi. Di antaranya klaim pernah menjadi pilot Angkatan Laut AS, mengikuti pendidikan di US Naval Test Pilot School, serta menjadi pembimbing tesis di Air Force Institute of Technology.


Informasi mengenai latar belakang tersebut menjadi penting karena Rush diketahui bekerja sekitar 17 tahun di CIA dan pernah mengejar posisi manajemen senior serta akses keamanan tingkat tinggi Top Secret/Sensitive Compartmented Information (TS/SCI).


Perkara tersebut turut menimbulkan pertanyaan mengenai proses pengawasan di lingkungan CIA.


Peninjauan internal yang diluncurkan Direktur CIA John Ratcliffe berujung pada sejumlah pejabat senior ditempatkan dalam status cuti administratif. Salah satu perhatian penyelidikan adalah bagaimana permintaan pendanaan jutaan dolar yang diajukan Rush dapat melewati proses pemeriksaan dan persetujuan.


Jaksa AS Raizza Ty dan pengacara Rush, Jessica Carmichael, menilai persidangan terbuka berpotensi menghadirkan persoalan hukum dan prosedural karena perkara menyangkut informasi yang diklasifikasikan.


Kesepakatan pengakuan bersalah sebelum dakwaan resmi diajukan diharapkan dapat mengurangi kebutuhan untuk membuka berbagai informasi sensitif selama proses pra-persidangan, termasuk sumber intelijen, metode operasi, dan program rahasia.


Untuk saat ini, Rush masih ditahan di fasilitas federal. Jaksa dan tim pembelanya masih menyelesaikan dokumen akhir terkait kesepakatan pengakuan bersalah tersebut.

Editor: Lukman Hakim
  • BERITA TERKAIT

kabarsurya.com di bawah naungan PT. Raja Inti Media merupakan media nasional dalam pemberitaan online yang berkomitmen menyajikan informasi secara cepat, akurat, dan terpercaya dengan mengedepankan prinsip jurnalistik yang profesional. Mengusung tagline "Hadir Tanpa Batas" untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dengan berita faktual, informatif dan berimbang. Menyajikan berbagai topik berita, mulai dari peristiwa nasional, pemerintahan, politik, ekonomi, hukum, pendidikan, kesehatan, sosial budaya, hingga gaya hidup dan teknologi. Setiap informasi yang dipublikasikan melalui proses verifikasi untuk memastikan keakuratan dan kualitas berita yang diterima oleh pembaca.

Contact Us


Alamat : Jl. Amanah Perhentian Marpoyan
Kode Pos:
WhatsApp: 082173544002
Email: admin@kabarsurya.com