
JAKARTA - Pemerintah Indonesia menargetkan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste to energy mulai beroperasi secara bertahap pada 2027 hingga 2028. Program ini menjadi salah satu langkah untuk mengurangi persoalan sampah sekaligus menghasilkan sumber energi alternatif.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan pemerintah bersama Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara terus mempercepat pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di sejumlah wilayah prioritas.
Program tersebut dijalankan sebagai tindak lanjut dari Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 yang mengatur percepatan pengembangan fasilitas pengolahan sampah berbasis energi.
Pada tahap awal, sebanyak 24 perusahaan telah lolos proses seleksi untuk mengikuti pembangunan proyek PSEL. Perusahaan-perusahaan tersebut akan membangun fasilitas di berbagai kota besar dengan kapasitas pengolahan minimal 1.000 ton sampah per hari.
Menurut Zulkifli, satu fasilitas PSEL dapat melayani kebutuhan beberapa daerah sekaligus karena membutuhkan pasokan sampah dalam jumlah besar agar operasionalnya berjalan efektif.
"Karena satu PSEL itu membutuhkan kapasitas 1.000 ton atau lebih, sehingga bisa mencakup gabungan beberapa kota," ujarnya.
Pembangunan sejumlah fasilitas tersebut mulai dilakukan pada 2026 dan 2027 dengan perkiraan waktu pengerjaan sekitar 18 bulan. Salah satu proyek yang telah dimulai berada di kawasan Denpasar Raya, Bali.
Pemerintah optimistis fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik dapat membantu mengatasi sebagian persoalan sampah nasional. Jika seluruh proyek tahap awal berjalan sesuai rencana, sekitar 22,5 persen masalah sampah di Indonesia diperkirakan dapat tertangani melalui teknologi tersebut.
Namun, pemerintah menyadari bahwa teknologi PSEL tidak dapat diterapkan untuk seluruh wilayah. Sebagian besar persoalan sampah lainnya, sekitar 77,5 persen, akan membutuhkan metode berbeda karena banyak daerah menghasilkan sampah dalam jumlah lebih kecil.
Zulkifli menjelaskan bahwa fasilitas berbasis teknologi tinggi seperti PSEL lebih cocok untuk wilayah dengan produksi sampah besar. Sementara daerah yang menghasilkan sampah sekitar 300 hingga 500 ton per hari perlu menggunakan pendekatan lain yang lebih sesuai dengan kondisi dan skala ekonominya.
Melalui program ini, pemerintah berharap pengelolaan sampah tidak lagi hanya menjadi beban lingkungan, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekonomi dan energi bagi masyarakat.
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | 28284 |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |