
BATU - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendorong media massa turut memperkuat edukasi mengenai keselamatan pariwisata atau safety tourism kepada masyarakat, khususnya wisatawan.
Media dinilai tidak hanya berperan menyampaikan informasi mengenai destinasi, tetapi juga dapat menjadi sarana edukasi agar wisatawan memahami potensi risiko dan menerapkan prosedur keselamatan selama melakukan aktivitas wisata.
Staf Ahli Bidang Manajemen Krisis Kepariwisataan Kementerian Pariwisata, Fadjar Hutomo, mengatakan kesadaran mengenai keselamatan perlu dibangun secara berkelanjutan. Salah satunya melalui pemberitaan yang memberikan informasi praktis kepada wisatawan.
Hal tersebut disampaikan Fadjar dalam kegiatan NGOPREK (Ngobrolin Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) yang digelar Forwaparekraf dengan tema “Safety Tourism, Sustainable Future: Membangun Wisata Aman, Edukatif, dan Berkelanjutan” di Kota Batu, Jawa Timur.
Menurut Fadjar, wisatawan perlu memahami karakteristik dan potensi risiko dari destinasi yang dikunjungi. Keselamatan, kata dia, harus menjadi bagian dari persiapan perjalanan, bukan hanya diperhatikan setelah terjadi insiden.
“Peran media juga menjadi penting untuk menjadi ruang edukasi bagi wisatawan. Hal tentang safety mindset, safety concern, dan safety awareness di masyarakat kita secara umum memang perlu terus ditingkatkan,” ujar Fadjar.
Fadjar menegaskan keselamatan wisata bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah atau pengelola destinasi. Wisatawan juga memiliki kewajiban menjaga keselamatan diri dengan mengikuti aturan yang telah ditetapkan.
Ia mencontohkan sejumlah ketentuan seperti kewajiban mengenakan jaket pelampung serta pembatasan tinggi badan pada wahana tertentu. Aturan tersebut dibuat berdasarkan pertimbangan keselamatan dan seharusnya tidak diabaikan.
Karena itu, informasi mengenai potensi bahaya, penggunaan alat keselamatan, batas usia atau tinggi badan, hingga prosedur dalam kondisi darurat perlu diberikan sebelum wisatawan mengikuti suatu aktivitas.
Menurut Fadjar, pemberitaan media dapat membantu memperluas pemahaman masyarakat mengenai hal tersebut.
Ia menilai keselamatan juga berkaitan dengan keberlanjutan pariwisata. Persepsi mengenai keamanan suatu destinasi dapat memengaruhi kepercayaan wisatawan.
“Tourism is not only about beauty, but also safety,” katanya.
Fadjar menjelaskan berbagai kejadian seperti kecelakaan transportasi, wisatawan tenggelam, insiden pada wahana, hingga bencana alam berpotensi memberikan dampak terhadap sektor pariwisata.
Oleh sebab itu, upaya membangun ekosistem keselamatan membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari pemerintah, pengelola destinasi, pekerja pariwisata, wisatawan, media, hingga lembaga pencarian dan pertolongan.
Selain meningkatkan kesadaran wisatawan, Fadjar menekankan pentingnya pelaku usaha pariwisata memenuhi standar keselamatan yang berlaku.
Ia merujuk pada Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 6 Tahun 2025 yang mengatur standar kegiatan usaha, pengawasan, serta sanksi administratif dalam penyelenggaraan perizinan berusaha berbasis risiko sektor pariwisata.
Menurutnya, standar keselamatan tidak cukup hanya dipenuhi secara administratif. Pelaku usaha juga perlu memastikan prosedur operasional dan sumber daya manusia yang berkaitan dengan keselamatan benar-benar tersedia.
Fadjar juga menyinggung Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan. Dalam ketentuan tersebut, usaha jasa pariwisata yang memiliki risiko keselamatan diwajibkan menyediakan sumber daya manusia yang kompeten di bidang pencarian dan pertolongan.
Ia menambahkan, kelalaian yang menyebabkan kecelakaan dapat menimbulkan konsekuensi hukum sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, termasuk ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP.
Kemenpar juga menjalankan program peningkatan kompetensi sumber daya manusia pariwisata. Pelatihan keselamatan dilakukan di berbagai daerah, termasuk melalui program tugas pembantuan yang menjangkau 38 provinsi.
Program upskilling juga diberikan kepada sejumlah profesional pariwisata. Materinya antara lain mencakup aspek keselamatan bagi pemandu aktivitas snorkeling, diving, dan pemancingan.
Fadjar mengatakan pemandu wisata memiliki peran penting karena berinteraksi langsung dengan wisatawan. Mereka dapat memberikan penjelasan mengenai potensi bahaya serta prosedur keselamatan sebelum kegiatan dimulai.
“Pemandu wisata juga perlu, apalagi ketika dia membawa grup, untuk mengingatkan soal keselamatan,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Jawa Timur Park Group, Rio Imam Sendjojo, mengatakan pengembangan destinasi wisata harus berjalan beriringan dengan aspek keselamatan dan keberlanjutan.
Ia mengatakan Jatim Park Group yang telah beroperasi selama 25 tahun terus mengembangkan destinasi dengan memadukan unsur rekreasi, pendidikan, dan pengalaman wisata.
Rio berharap Kota Batu semakin dikenal sebagai salah satu tujuan wisata nasional dan mampu menarik lebih banyak wisatawan mancanegara.
Menurutnya, pengembangan destinasi masih akan terus dilakukan seiring perubahan kebutuhan wisatawan dan perkembangan industri pariwisata.
Penguatan safety tourism pada akhirnya membutuhkan peran seluruh unsur pariwisata. Pengelola destinasi harus memenuhi standar keselamatan, pekerja dan pemandu memiliki kompetensi, wisatawan mematuhi aturan, sedangkan pemerintah memastikan regulasi serta pengawasan berjalan.
Di sisi lain, media dapat membantu membangun budaya keselamatan dengan menyampaikan informasi mengenai risiko dan prosedur wisata secara edukatif sebelum masyarakat melakukan perjalanan.
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |