
JAKARTA - Pemerintah menegaskan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia tetap berada dalam kondisi stabil di tengah meningkatnya ketidakpastian global, termasuk dinamika geopolitik dan konflik di berbagai kawasan dunia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa perkembangan situasi global saat ini memang menimbulkan tekanan terhadap pasar internasional, namun juga membuka peluang bagi stabilitas ekonomi jangka panjang apabila perdamaian dapat segera tercapai.
“Perdamaian selalu memberikan dampak positif terhadap outlook global dan memperbaiki rantai pasok dunia. Hal ini sangat berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia,” ujar Airlangga dalam wawancara di Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Menurutnya, ketidakpastian global membuat investor lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi, terutama dalam menjaga likuiditas dan menghadapi volatilitas pasar.
Meski demikian, kawasan Indo-Pasifik dinilai masih menjadi salah satu wilayah yang paling menarik bagi investasi global. Pertumbuhan ekonomi ASEAN yang tetap berada di atas 4 persen serta stabilitas kawasan yang melibatkan negara-negara besar seperti China, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru menjadi faktor penopang utama.
Pemerintah juga menilai sejumlah kawasan ekonomi khusus di Indonesia menunjukkan kinerja positif, termasuk meningkatnya minat investasi dan rencana ekspansi di beberapa wilayah sebagai bagian dari pergeseran rantai pasok global.
Dalam menjaga stabilitas domestik, pemerintah terus memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter, termasuk upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta arus modal masuk.
“Kerja sama kebijakan fiskal dan moneter sudah berjalan baik. Kami terus memantau likuiditas, penyaluran kredit, dan dana pihak ketiga perbankan,” kata Airlangga.
Selain itu, pemerintah juga mempercepat strategi diversifikasi kerja sama ekonomi internasional melalui berbagai perjanjian seperti OECD accession, CPTPP, dan Indonesia-European Union CEPA (IEU-CEPA).
Airlangga menjelaskan bahwa IEU-CEPA akan membuka akses lebih luas bagi produk Indonesia ke pasar Uni Eropa dengan nilai ekonomi besar, sekaligus menghapus sebagian besar tarif perdagangan yang selama ini masih berkisar 10-20 persen.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi pada semester II-2026, pemerintah juga menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun. Stimulus tersebut mencakup sektor transportasi dan pariwisata, program magang dan vokasi, serta bantuan pangan masyarakat.
“Ekonomi Indonesia dasarnya solid dan resilient. Kita akan terus dorong agar pertumbuhan ini bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat,” tutup Airlangga.
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | 28284 |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |