
PARIS - Sejumlah negara di Eropa menghadapi gelombang panas ekstrem yang menyebabkan ratusan korban jiwa, lonjakan pasien di rumah sakit, hingga gangguan pada aktivitas masyarakat. Suhu udara di berbagai wilayah dilaporkan melampaui 35 derajat Celsius, bahkan mendekati 40 derajat Celsius di beberapa lokasi.
Di Spanyol, sistem pemantauan kematian mencatat sedikitnya 212 kematian yang diduga berkaitan dengan cuaca panas dalam kurun 21-24 Juni. Negara itu juga mencatat suhu tertinggi untuk bulan Juni.
Inggris turut mengalami kondisi serupa dengan rekor suhu 36,4 derajat Celsius di Somerset, menjadi hari terpanas pada bulan Juni sejak pencatatan dilakukan.
Prancis menjadi salah satu negara yang paling terdampak. Otoritas setempat melaporkan peningkatan tajam pasien dengan gangguan kesehatan akibat suhu tinggi. Dalam sehari, wilayah Paris mencatat 25 kasus henti jantung, jauh di atas angka normal. Selain itu, puluhan orang dilaporkan meninggal akibat tenggelam ketika berupaya mendinginkan diri di sungai, danau, maupun pantai.
Pemerintah Prancis mengambil sejumlah langkah darurat, termasuk membatasi penjualan minuman beralkohol di ruang publik dan menghentikan sementara operasi beberapa reaktor nuklir untuk mencegah kenaikan suhu air sungai yang digunakan sebagai sistem pendingin.
Sementara itu, Italia mengimbau masyarakat menghindari aktivitas di luar ruangan pada pukul 10.00 hingga 15.00 waktu setempat. Belanda juga untuk pertama kalinya mengeluarkan peringatan merah akibat gelombang panas, sedangkan Jerman, Austria, Republik Ceko, dan Swiss diperkirakan masih akan mengalami suhu tinggi dalam beberapa hari ke depan.
Gelombang panas turut memukul sektor pertanian. Ratusan ribu unggas di Prancis dilaporkan mati akibat suhu yang terlalu tinggi, sementara produksi susu menurun karena ternak mengalami stres panas.
Peternak ayam asal Prancis, Clement Blanchard, mengaku kehilangan sekitar 700 ekor ayam hanya dalam beberapa hari.
"Hewan-hewan mengalami penderitaan yang sama seperti manusia saat menghadapi panas ekstrem. Pada kondisi seperti ini, tingkat kematian meningkat sangat tajam," ujarnya.
Dampak juga dirasakan sektor pendidikan. Ribuan sekolah di Prancis dan lebih dari seribu sekolah di Inggris menghentikan kegiatan belajar atau menerapkan jadwal khusus untuk melindungi siswa dari cuaca ekstrem.
Wakil Direktur Copernicus Climate Change Service Uni Eropa, Samantha Burgess, menjelaskan bahwa fenomena ini dipicu oleh heat dome, yaitu massa udara panas dari Afrika Utara yang terperangkap di bawah sistem tekanan tinggi.
"Meski heat dome merupakan fenomena alami, perubahan iklim akibat aktivitas manusia membuat gelombang panas menjadi lebih sering terjadi, lebih intens, dan berpotensi memecahkan rekor suhu baru," kata Burgess.
Kelompok ilmuwan World Weather Attribution (WWA) menilai gelombang panas kali ini merupakan salah satu yang paling parah yang pernah melanda Eropa Barat dan hampir mustahil terjadi tanpa pengaruh pemanasan global akibat aktivitas manusia.
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | 28284 |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |