
JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan bahwa keluarga memiliki peran utama dalam membangun kesehatan mental anak sejak dini. Momentum Hari Keluarga Nasional (Harganas) menjadi pengingat bahwa kehadiran orang tua, terutama ayah dan ibu yang terlibat aktif dalam pengasuhan, sangat menentukan tumbuh kembang anak secara emosional, psikologis, dan sosial.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi, mengatakan keterlibatan ayah dalam kehidupan anak tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga memberikan dukungan emosional yang mampu membentuk karakter, ketangguhan mental, dan rasa percaya diri anak.
Menurutnya, fenomena minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan atau fatherless menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental pada anak dan remaja.
"Data menunjukkan sekitar sepertiga remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Kurangnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan dapat meningkatkan risiko anak mengalami perundungan, terlibat tawuran, hingga penyalahgunaan narkoba," ujar Imran di Jakarta, Selasa (30/6/2026).
Kemenkes mencatat hasil program skrining kesehatan jiwa sepanjang 2025-2026 menunjukkan hampir 10 persen anak Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental. Dari sekitar tujuh juta anak yang telah menjalani skrining, sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala kecemasan, sedangkan sekitar 363 ribu lainnya mengalami gejala depresi.
Selain itu, data Global School-Based Student Health Survey memperlihatkan adanya peningkatan kasus percobaan bunuh diri di kalangan remaja, dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental anak menjadi persoalan serius yang memerlukan perhatian bersama dari keluarga, pemerintah, sekolah, dan masyarakat.
Imran menjelaskan bahwa keluarga memiliki delapan fungsi utama yang saling melengkapi, mulai dari penanaman nilai keagamaan, pembentukan karakter sosial budaya, pemberian kasih sayang, perlindungan, pendidikan, pengelolaan ekonomi keluarga, hingga pembinaan lingkungan. Apabila seluruh fungsi tersebut dijalankan secara konsisten, keluarga akan menjadi fondasi utama dalam menjaga kesehatan mental anak.
Untuk mendukung pengasuhan yang positif, Kemenkes mengajak orang tua meluangkan waktu sekitar 15 hingga 30 menit setiap hari untuk berinteraksi dengan anak tanpa gangguan gawai. Orang tua juga diharapkan membiasakan diri mendengarkan cerita anak tanpa menghakimi serta memberikan dukungan terhadap potensi yang dimiliki.
Imran menambahkan, kehadiran ayah sebagai teladan yang penuh kasih, mampu mengelola emosi, dan menerapkan disiplin tanpa kekerasan akan membantu membangun ikatan emosional yang kuat (secure attachment). Sementara itu, peran ibu melalui kasih sayang yang konsisten, komunikasi yang hangat, dan dukungan terhadap perkembangan anak menjadi pelengkap yang penting dalam menciptakan lingkungan keluarga yang sehat.
Menurutnya, keseimbangan peran ayah dan ibu akan membentuk anak yang lebih tangguh, percaya diri, dan siap menghadapi berbagai tantangan, termasuk pengaruh era digital. Sebaliknya, kondisi ketika ayah hanya hadir secara fisik tanpa keterlibatan emosional (emotional fatherless) dapat membuat anak kehilangan figur pendukung utama dan lebih rentan mencari perhatian di luar lingkungan keluarga.
Kementerian Kesehatan berharap momentum Hari Keluarga Nasional menjadi pengingat bagi seluruh keluarga Indonesia untuk terus memperkuat komunikasi, kasih sayang, dan kebersamaan sebagai fondasi utama dalam menjaga kesehatan mental generasi penerus bangsa.
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | 28284 |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |