
DENPASAR - Harga properti residensial di Bali kembali mencatat pertumbuhan pada kuartal II 2026. Berdasarkan survei Bank Indonesia (BI), Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) di pasar primer Bali tumbuh 1,02% secara tahunan (yoy).
Pertumbuhan tersebut meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yang tercatat 0,87% yoy.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali Achris Sarwani menyebut kenaikan terutama terjadi pada rumah kategori menengah dan besar. Harga rumah menengah tumbuh 1,52%, sedangkan kategori besar meningkat 0,82% secara tahunan.
Salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga adalah meningkatnya biaya pembangunan. Dalam survei BI, 81,3% responden menyebut kenaikan harga bahan bangunan sebagai faktor yang memengaruhi harga rumah. Sementara itu, 46,9% responden menilai kenaikan upah tenaga kerja turut memberikan tekanan.
Selain kedua faktor tersebut, biaya perizinan, harga bahan bakar minyak, serta penambahan fasilitas perumahan juga ikut memengaruhi harga properti.
Di sisi pengembang, penjualan rumah di Bali masih menghadapi sejumlah kendala. Tingginya bunga KPR, terbatasnya lahan, beban pajak, dan kebutuhan uang muka menjadi beberapa persoalan yang dinilai menghambat pasar.
Untuk pembiayaan pembangunan, mayoritas pengembang masih menggunakan modal sendiri dengan porsi 56,6%. Pembiayaan melalui perbankan berada di posisi berikutnya dengan 35,3%, disusul dana konsumen 5,9% dan lembaga keuangan nonbank 2,2%.
Sementara dari sisi pembeli, KPR menyumbang 67,6% dari total pembelian rumah residensial primer di Bali.
BI juga memperkirakan harga properti masih berpotensi naik pada kuartal III 2026. Kenaikan diperkirakan terjadi baik pada harga tanah maupun bangunan.
Meski demikian, pelaku industri diperkirakan tetap berhati-hati dalam menetapkan harga karena kondisi penjualan masih menghadapi sejumlah tantangan.
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | 28284 |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |