
BERLIN - Gelombang panas ekstrem yang melanda Jerman sepanjang 2026 diperkirakan telah menyebabkan sedikitnya 5.120 kematian. Estimasi tersebut disampaikan oleh Robert Koch Institute (RKI), lembaga kesehatan publik Jerman, yang mencatat lonjakan angka kematian terutama pada akhir Juni ketika suhu udara meningkat jauh di atas rata-rata.
RKI menyebut sebagian besar korban berasal dari kelompok lanjut usia berumur 75 tahun ke atas. Sekitar 4.270 kematian terjadi pada kelompok usia tersebut, dengan jumlah korban perempuan lebih tinggi karena populasi lansia perempuan di Jerman lebih banyak dibandingkan laki-laki.
Cuaca panas yang berkepanjangan tidak hanya berdampak pada Jerman. Sejumlah negara di Eropa Barat, termasuk Prancis, Belgia, Spanyol, dan Belanda, juga melaporkan lebih dari 4.700 kematian berlebih selama periode gelombang panas yang berlangsung pada 20 hingga 28 Juni. Sementara itu, Copernicus Climate Change Service mencatat Juni 2026 sebagai bulan Juni terpanas yang pernah tercatat di kawasan Eropa Barat dengan suhu rata-rata mencapai 20,74 derajat Celsius.
Berdasarkan data historis RKI, angka kematian akibat gelombang panas tahun ini memang tergolong tinggi, meski belum melampaui rekor yang terjadi pada 2018 dengan sekitar 8.400 kematian dan 2019 yang mencapai sekitar 6.900 kematian.
Dalam laporan mingguannya, RKI menilai kondisi cuaca panas yang terjadi tahun ini masih menjadi tantangan serius bagi kesehatan masyarakat, khususnya bagi kelompok rentan seperti lansia dan penderita penyakit kronis. Lembaga tersebut juga mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan fasilitas kesehatan dan perlindungan bagi masyarakat selama periode suhu ekstrem.
Meningkatnya jumlah korban memicu perdebatan di parlemen Jerman. Sorotan menguat setelah dilaporkan sekitar 120 orang meninggal dalam satu akhir pekan di Kota Cologne pada 27-28 Juni, atau sekitar empat kali lipat dibandingkan angka kematian normal pada periode yang sama.
Pemimpin Partai Greens, Katharina Droege, mengkritik Kanselir Friedrich Merz karena dinilai belum memberikan tanggapan publik yang memadai terhadap bencana tersebut. Ia juga menuduh pemerintah telah mengurangi anggaran perlindungan iklim dari Dana Iklim dan Transformasi (KTF) demi menutup defisit anggaran negara.
Menurut Droege, kebijakan tersebut berpotensi menghambat upaya Jerman dalam mencapai target pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 65 persen pada 2030. Hingga saat ini, capaian pengurangan emisi disebut masih berada di kisaran 48 persen, sehingga diperlukan komitmen yang lebih kuat untuk menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin sering memicu cuaca ekstrem.
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | 28284 |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |