
JAKARTA - Pemerintah bersama PT Kereta Api Indonesia (KAI) tengah menyiapkan pengembangan jaringan kereta api terpadu di Pulau Sumatra. Program tersebut ditujukan untuk menghubungkan wilayah paling selatan hingga utara Sumatra melalui jalur rel yang terintegrasi.
Rencana pengembangan ini menjadi salah satu agenda strategis nasional guna meningkatkan konektivitas antarwilayah, memperkuat distribusi logistik, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menjelaskan bahwa pembangunan jaringan kereta lintas Sumatra merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto. Saat ini, jalur kereta api di Sumatra masih beroperasi secara terpisah dan belum membentuk satu koridor yang saling terhubung.
Menurutnya, sejumlah lintasan yang telah beroperasi berada di kawasan Lampung-Palembang, Lampung-Lubuk Linggau, wilayah Medan, serta beberapa jalur di Sumatra Barat. Namun, konektivitas antarkawasan tersebut masih belum menyatu secara penuh.
Sebagai langkah awal, KAI memprioritaskan penyambungan jalur kereta antara Banda Aceh dan Besitang di Sumatra Utara. Ruas sepanjang sekitar 478 kilometer itu saat ini masih dalam tahap penyusunan Detail Engineering Design (DED).
Proyek tersebut mencakup reaktivasi lintasan Banda Aceh-Sigli sepanjang sekitar 80 kilometer serta jalur Sigli-Bireuen-Lhokseumawe-Besitang dengan panjang kurang lebih 398 kilometer.
Selain di Aceh, perusahaan juga menyiapkan reaktivasi sejumlah jalur lama di Sumatra Barat. Beberapa lintasan yang masuk dalam rencana tersebut antara lain Naras-Sungai Limau, Kayu Tanam-Padang Panjang-Bukittinggi-Limbanang, Muara Kalaban-Sawahlunto, hingga Solok-Muara Kalaban. Total panjang jalur yang akan diaktifkan kembali mencapai sekitar 248,5 kilometer.
Tidak hanya menghidupkan jalur lama, KAI juga merencanakan pembangunan lintasan baru yang telah tercantum dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNAS). Koridor yang masuk dalam daftar pengembangan meliputi Rantau Prapat-Dumai, Duri-Pekanbaru, Pekanbaru-Rengat, Rengat-Jambi, Kertapati-Tarahan-Bakauheni, serta Lubuk Linggau-Bengkulu.
Jika seluruh proyek tersebut direalisasikan, panjang jaringan baru yang dibangun diperkirakan mencapai sekitar 1.110 kilometer.
Di sektor logistik, KAI turut menyiapkan pengembangan jalur angkutan batu bara Tanjung Enim Baru-Tarahan II. Program ini mencakup pembangunan rel baru sekaligus peningkatan kapasitas jalur eksisting dengan total panjang sekitar 313 kilometer.
Untuk kebutuhan investasi, KAI memperkirakan biaya pembangunan jalur kereta api baru mencapai sekitar Rp20 miliar per kilometer untuk jalur tunggal. Sementara itu, total dana yang diperlukan guna mewujudkan jaringan kereta api yang tersambung dari Bandar Lampung hingga Banda Aceh diperkirakan mencapai US$20 miliar hingga US$25 miliar atau sekitar Rp 350 triliun.
Apabila terealisasi, proyek Kereta Trans Sumatra diyakini akan menjadi salah satu infrastruktur transportasi terbesar di Indonesia yang mampu memperkuat mobilitas penumpang maupun distribusi barang antardaerah di Pulau Sumatra.
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | 28284 |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |