
JAKARTA - Pemerintah Indonesia dan Suriah membuka peluang baru dalam penguatan kerja sama pendidikan Islam melalui program pertukaran pelajar, pengembangan studi bahasa Arab, dan peningkatan hubungan antarlembaga pendidikan keagamaan.
Peluang kerja sama tersebut dibahas dalam pertemuan Menteri Agama RI Nasaruddin Umar dengan Komisioner Dewan Fatwa Suriah Muhammad Wahbi Sulaiman di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Muhammad Wahbi Sulaiman menyampaikan harapan agar mahasiswa Indonesia kembali melanjutkan pendidikan di Suriah, khususnya untuk mendalami ilmu keislaman dan bahasa Arab.
“Kami dulu punya murid dari Indonesia yang datang ke kami, dan kami bangga melayani murid-murid saudara Indonesia. Kami bangga dengan hubungan dengan Indonesia karena kami lihat Indonesia adalah kedalaman Islam kami. Ini negara Islam terbesar,” ujar Muhammad Wahbi Sulaiman.
Menurutnya, sejumlah perguruan tinggi di Suriah, termasuk Universitas Islam di Damaskus dan Universitas Damaskus, siap menerima mahasiswa asal Indonesia.
“Kami ingin mereka datang ke Universitas Islam kami di Damaskus. Bahkan ke Universitas Damaskus. Kami ingin murid kembali ke Suriah,” katanya.
Menanggapi tawaran tersebut, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyambut positif peluang penguatan hubungan pendidikan antara Indonesia dan Suriah.
Nasaruddin menilai Indonesia memiliki kekuatan besar melalui jaringan pesantren yang tersebar di berbagai daerah. Keberadaan pesantren dapat menjadi modal penting dalam memperluas kerja sama pendidikan Islam kedua negara.
“Kami akan musyawarahkan dulu. Jumlah pesantren di Indonesia lebih dari 40 ribu pesantren,” ujar Nasaruddin Umar.
Menurutnya, besarnya jumlah pesantren menjadi potensi strategis untuk meningkatkan pertukaran ilmu pengetahuan, memperkuat kualitas pendidikan Islam, serta mempererat hubungan antarnegara muslim.
Selain kerja sama pendidikan, Muhammad Wahbi Sulaiman juga mengajak Indonesia untuk mengambil peran dalam proses pembangunan kembali Suriah pascaperubahan politik yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Ia menilai Indonesia memiliki posisi penting sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia dan dapat berkontribusi dalam membangun hubungan yang lebih erat antara Suriah dan negara-negara Islam lainnya.
“Kami sekarang di Suriah mengandalkan Indonesia untuk mengembalikan keseimbangan antara berbagai pemikiran. Kami ingin negara-negara Islam kembali berhubungan dengan Suriah,” ujarnya.
Menurut Wahbi, Suriah saat ini tengah berupaya membangun kembali berbagai sektor dan berharap Indonesia dapat terlibat melalui kerja sama pembangunan maupun hubungan diplomatik yang lebih kuat.
“Suriah menunggu Indonesia jadi lokomotif dunia Islam,” katanya.
Menag Nasaruddin Umar menilai Suriah dapat menjadi salah satu destinasi pendidikan bagi pelajar Indonesia yang ingin memperdalam bahasa Arab dan studi keislaman.
“Saya hormati niat baik negara Suriah. Saya ingin ada banyak anak-anak untuk belajar di sana khusus belajar bahasa Arab,” ujar Nasaruddin.
Sementara itu, Muhammad Wahbi Sulaiman memastikan pemerintah dan lembaga pendidikan di Suriah siap memberikan kemudahan bagi mahasiswa Indonesia yang ingin menempuh pendidikan di negara tersebut.
“Kalau ada soal murid, insyaAllah kami akan hilangkan semua kesulitan untuk menerima murid Indonesia. Tapi ini mungkin tergantung inisiatif dari pemerintah Indonesia ke pemerintah Suriah,” tuturnya.
Kerja sama pendidikan yang tengah dijajaki kedua negara diharapkan dapat memperluas akses pendidikan bagi generasi muda, sekaligus memperkuat diplomasi pendidikan dan hubungan antarmasyarakat di dunia Islam.
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | 28284 |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |