
JAKARTA - Upaya melindungi masyarakat dari dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus diperkuat pemerintah. Salah satu langkah yang dilakukan yakni menyediakan ratusan rumah oksigen serta memobilisasi ribuan tenaga kesehatan untuk menangani gangguan pernapasan, khususnya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Widyawati, mengatakan sebanyak 814 rumah oksigen telah disiapkan di tujuh provinsi yang terdampak karhutla. Selain itu, pemerintah juga mengerahkan 9.355 tenaga kesehatan guna memastikan pelayanan medis dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Menurutnya, ketersediaan fasilitas oksigen harus diikuti dengan kemudahan akses bagi pasien yang mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap kebakaran.
“Yang menjadi perhatian kami sebenarnya bukan semata-mata jumlah dari rumah oksigen yang tersedia, melainkan juga bagaimana memastikan dukungan oksigen tersebut dapat diakses masyarakat yang membutuhkan, terutama bagi pasien-pasien yang terganggu pernapasannya,” ujar Widyawati dalam konferensi pers melalui kanal YouTube BNPB, Kamis (5/11/2026).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi per 3 November 2026, Kalimantan Tengah menjadi daerah dengan jumlah rumah oksigen terbanyak, yakni 336 unit. Selanjutnya Kalimantan Selatan sebanyak 175 unit, Kalimantan Barat 158 unit, Jambi 131 unit, Riau 10 unit, Sumatera Selatan tiga unit, dan Kalimantan Timur satu unit.
Sementara itu, dari total 9.355 tenaga kesehatan yang dimobilisasi, Kalimantan Timur mendapat dukungan terbesar dengan 5.525 personel. Disusul Jambi sebanyak 2.589 orang, Kalimantan Tengah 487 orang, Sumatera Selatan 382 orang, Riau 209 orang, Kalimantan Barat 121 orang, serta Kalimantan Selatan 42 orang.
Widyawati menjelaskan, personel yang dilibatkan berasal dari berbagai bidang kompetensi, mulai dari dokter, bidan, apoteker, ahli gizi hingga pengemudi ambulans. Keterlibatan tenaga lintas profesi tersebut diperlukan agar penanganan kesehatan masyarakat dapat berlangsung cepat dan menyeluruh.
Ia menambahkan, koordinasi antara pemerintah pusat dan dinas kesehatan di tingkat provinsi terus diperkuat untuk memastikan kebutuhan pelayanan medis di setiap daerah dapat terpenuhi.
Selain menyiapkan tenaga kesehatan dan fasilitas oksigen, pemerintah juga mempercepat penyaluran berbagai perlengkapan medis ke wilayah terdampak.
Data Kementerian Kesehatan hingga 4 November 2026 pukul 15.00 WIB mencatat distribusi bantuan telah mencapai sekitar 3,8 juta masker, 280 unit konsentrator oksigen, 41 ribu pasang sarung tangan medis, serta 939 tabung oksigen.
Bantuan lainnya meliputi alat pelindung diri (APD), alat pemurni udara atau air purifier, makanan tambahan, obat-obatan, vitamin, serta berbagai perlengkapan penunjang pelayanan kesehatan. Penyalurannya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing fasilitas kesehatan di daerah.
Besarnya perhatian pemerintah terhadap penanganan dampak karhutla tidak terlepas dari jumlah masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan. Hingga 2 November 2026 pukul 16.00 WIB, tercatat sebanyak 401.586 kasus ISPA secara kumulatif di tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 91.913 kasus dialami balita berusia 0–5 tahun, 87.704 kasus pada kelompok anak usia 6–9 tahun, serta 56.092 kasus pada masyarakat lanjut usia di atas 60 tahun.
Selain kelompok usia rentan tersebut, pemerintah juga memberikan perhatian khusus kepada 590 ibu hamil, 1.530 penderita asma, dan 8.086 pekerja luar ruangan yang berisiko terpapar asap karhutla.
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |