
TEHERAN - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Iran mengklaim telah menyerang 10 kapal yang berada di sekitar Selat Hormuz.
Serangan tersebut disebut sebagai respons Iran terhadap tindakan militer Amerika Serikat yang sebelumnya menenggelamkan lima kapal tanker milik Iran.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan serangan dilakukan terhadap dua kapal berbendera Amerika Serikat dan delapan kapal tanker minyak. Peristiwa tersebut dilaporkan terjadi pada Rabu (9/9/2026).
IRGC menyebut kapal-kapal yang menjadi sasaran sebagai kapal yang tidak mematuhi aturan atau berstatus noncompliant. Istilah tersebut diduga merujuk pada kapal yang mencoba melewati kawasan Selat Hormuz tanpa memenuhi ketentuan yang diberlakukan Iran.
Dalam insiden tersebut, sedikitnya satu pelaut dilaporkan meninggal dunia, sementara seorang lainnya masih dinyatakan hilang.
Rangkaian serangan terbaru menjadi salah satu eskalasi paling serius dalam beberapa pekan terakhir. Konflik antara Washington dan Teheran sendiri telah berlangsung selama sekitar enam bulan dan belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik utama dalam konflik karena jalur tersebut memiliki peran strategis terhadap distribusi energi dunia.
Iran berusaha membatasi lalu lintas kapal di kawasan tersebut, sementara Amerika Serikat menerapkan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran.
Sebelum konflik meningkat, jalur sempit tersebut menjadi rute bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Situasi tersebut turut memberikan tekanan terhadap pasar energi global. Harga minyak dilaporkan menembus level psikologis US$100 per barel, untuk pertama kalinya sejak Juli.
Lonjakan harga minyak berpotensi memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian global. Kenaikan biaya energi dapat mendorong inflasi dan membuat harga berbagai kebutuhan ikut meningkat.
Di Amerika Serikat, pasar saham Wall Street dilaporkan mengalami tekanan. Kenaikan harga bahan bakar dan pangan juga menjadi tantangan tambahan bagi pemerintahan Presiden Donald Trump.
Situasi ekonomi tersebut menjadi semakin sensitif karena Amerika Serikat tengah menghadapi pemilu paruh waktu. Perang yang tidak populer serta persoalan biaya hidup berpotensi menjadi isu politik penting.
Dengan aktivitas kapal yang semakin terganggu di Selat Hormuz, perhatian dunia kini tertuju pada kemungkinan eskalasi berikutnya dan dampaknya terhadap kelancaran pasokan energi internasional.
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | 28284 |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |