Malam dengan 7.000 Hidangan, Ribuan Warga Duduk Tanpa Sekat di An-Nur Sambut 1 Muharam
Rabu, 17 Juni 2026 - 21:09 WIB
PEKANBARU - Di halaman luas depan Masjid Agung An-Nur, Pekanbaru, Selasa (16/6/2026) malam, suasana tampak lebih padat dari biasanya. Sejak sore, arus manusia terus berdatangan tanpa henti. Ada yang datang berkelompok membawa keluarga, ada pula yang berjalan pelan sambil mencari tempat duduk di antara deretan hidangan yang sudah tersusun rapi memanjang.
Lampu-lampu yang menerangi kawasan masjid memantul di deretan talam dan piring saji, menciptakan pemandangan yang bukan hanya ramai, tetapi juga hangat. Aroma masakan khas Melayu perlahan menyebar di udara, bercampur dengan suara orang-orang yang saling memanggil, menyapa, dan mengarahkan tempat duduk.
Malam itu, ribuan warga berkumpul dalam kegiatan Doa Selamat Menyongsong Bangkitnya Nusantara dan Makan Berhidang 7.000 Orang yang digelar Penggawa Melayu Riau (PMR). Acara ini bertepatan dengan 1 Muharam 1448 Hijriah, yang oleh sebagian masyarakat dimaknai sebagai momentum refleksi dan harapan baru.
Di tengah keramaian itu, tidak semua orang datang dengan tujuan yang sama persis, namun banyak yang sepakat pada satu hal: ingin merasakan kembali suasana kebersamaan yang kini jarang ditemui dalam keseharian.
Sebagian warga duduk di lantai beralas tikar, sebagian lainnya berdiri karena tempat yang tersedia tidak lagi mencukupi. Panitia bahkan menyiapkan sekitar 7.000 porsi makanan dengan tambahan cadangan 2.000 porsi, namun jumlah kehadiran yang tinggi membuat suasana tetap terasa penuh sesak.
Ketua Umum DPP PMR, Datuk Afrizal Anjo SE MSi, menyebut kegiatan ini sebagai bentuk doa bersama untuk keselamatan bangsa. Dalam keterangannya, ia menggambarkan kondisi bangsa yang menurutnya sedang menghadapi banyak persoalan, sehingga diperlukan kebersamaan dan doa dari seluruh elemen masyarakat.
“Pada saat ini bangsa kita banyak konflik dan banyak masalah. Itu menjadi perhatian bersama bagaimana kita mendoakan bangsa ini agar baik-baik,” ujarnya.
Namun di luar pernyataan resmi itu, suasana malam lebih banyak berbicara lewat kebersamaan yang tampak di lapangan. Ribuan orang duduk berdekatan tanpa sekat sosial yang terlihat jelas. Di satu sisi, anak-anak menikmati hidangan sambil sesekali tertawa kecil. Di sisi lain, orang dewasa berbincang ringan, seolah melepas penat dari rutinitas sehari-hari.
Afrizal juga menyinggung pentingnya mengingat jasa para leluhur, pejuang, ulama, dan tokoh bangsa yang telah membangun pondasi kehidupan hari ini. Ia menekankan bahwa menjaga budaya, termasuk tradisi makan berhidang, merupakan bagian dari menjaga identitas masyarakat Melayu.
“Adat tidak bisa dihilangkan. Tradisi harus tetap hidup di tengah masyarakat,” katanya.
Di sepanjang lokasi, tradisi makan berhidang benar-benar menjadi pusat perhatian. Hidangan disajikan dalam susunan yang rapi dan kemudian dinikmati bersama dalam satu kelompok. Cara ini bukan hanya soal makanan, tetapi juga tentang tata cara, kebersamaan, dan rasa saling berbagi yang diwariskan turun-temurun dalam budaya Melayu.
Rangkaian acara diawali dengan pembukaan dan doa bersama yang dipimpin H Ahmadi SHI MH dari Kementerian Agama/KUA Kecamatan Lima Puluh. Suasana menjadi lebih tenang saat doa dipanjatkan, seakan seluruh keramaian berhenti sejenak dalam hening yang sama.
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan penyerahan penghargaan dari Pusat Kajian dan Penelitian Tokoh-Tokoh Nusantara kepada sejumlah tokoh yang dinilai berkontribusi dalam pembangunan masyarakat. Momen ini berlangsung singkat, namun menjadi bagian dari penghormatan terhadap peran-peran yang sering kali tidak terlihat di permukaan.
Suasana kembali mencair ketika Dr H Abid Halimi SPdI MPdC HT dari Pondok Pesantren Alam Barzah Al Mahribi Mojokerto, Jawa Timur, menyampaikan ceramah bertema “Renungan Kebangkitan Diri dan Kebangkitan Nusantara”. Pesan-pesan yang disampaikan mengalir di tengah kerumunan yang tetap tertib mendengarkan, meski sesekali suara anak kecil dan aktivitas warga tetap terdengar di sela-sela acara.
Puncak kegiatan terjadi saat seluruh rangkaian formal selesai dan masyarakat mulai menikmati makan berhidang bersama. Di momen inilah suasana berubah menjadi lebih cair. Orang-orang yang sebelumnya hanya duduk berdekatan kini benar-benar berbagi hidangan dalam satu meja panjang tradisi Melayu.
Diiringi penampilan Tari Zapin dari Sanggar Tari Laksamana, malam itu terasa seperti pertemuan antara budaya, spiritualitas, dan kehidupan sehari-hari. Gerakan tari yang lembut berpadu dengan riuh rendah percakapan warga yang menikmati hidangan.
Bagi sebagian orang, kegiatan ini mungkin dipandang sebagai agenda keagamaan dan budaya. Namun bagi mereka yang hadir langsung, malam itu meninggalkan kesan yang lebih sederhana namun kuat: ruang di mana ribuan orang bisa duduk bersama, makan dari hidangan yang sama, dan membawa pulang rasa kebersamaan yang jarang ditemukan di luar momen seperti ini.
kabarsurya.com di bawah naungan PT. Raja Inti Media merupakan media nasional dalam pemberitaan online yang berkomitmen menyajikan informasi secara cepat, akurat, dan terpercaya dengan mengedepankan prinsip jurnalistik yang profesional. Mengusung tagline "Hadir Tanpa Batas" untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dengan berita faktual, informatif dan berimbang. Menyajikan berbagai topik berita, mulai dari peristiwa nasional, pemerintahan, politik, ekonomi, hukum, pendidikan, kesehatan, sosial budaya, hingga gaya hidup dan teknologi. Setiap informasi yang dipublikasikan melalui proses verifikasi untuk memastikan keakuratan dan kualitas berita yang diterima oleh pembaca.