
REMBANG - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, kembali menjadi perhatian setelah dua dugaan keracunan makanan terjadi dalam waktu berdekatan. Jumlah siswa dan guru yang dilaporkan terdampak dari dua kejadian tersebut mencapai hampir 1.000 orang.
Kasus terbaru terjadi di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Rembang. Sebagian siswa masih mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan pada Rabu (9/9/2026), setelah mengalami keluhan usai menyantap makanan MBG pada Senin (7/9/2026).
Berdasarkan data sementara, sebanyak 271 siswa dan satu guru MAN 2 Rembang dilaporkan terdampak dalam kejadian tersebut.
Peristiwa itu bukan kasus pertama di wilayah tersebut. Sebelumnya, pada 3 September, dugaan keracunan juga dialami warga sekolah SMAN 1 Lasem. Sebanyak 725 siswa dan 25 guru dilaporkan mengalami keluhan setelah mengonsumsi paket MBG.
Puluhan siswa dari SMAN 1 Lasem bahkan sempat dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan penanganan medis.
Jika kedua kejadian tersebut digabungkan, jumlah warga sekolah yang terdampak mencapai 1.022 orang.
Rentetan kejadian dengan jumlah korban cukup besar tersebut memunculkan desakan agar pelaksanaan program MBG di Rembang dievaluasi secara menyeluruh.
Ketua Ormas Brandal Alif, Arief Yulianto, mempertanyakan pengawasan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi bagian dari penyediaan makanan MBG.
"Ada apa sebenarnya dengan SPPG di Rembang ini? Dua kejadian keracunan MBG dengan jumlah korban cukup besar tetapi tidak ada tindakan tegas," kata Arief.
Masyarakat juga mendorong dilakukannya pemeriksaan terhadap standar kebersihan dan keamanan pangan di dapur SPPG. Hasil investigasi serta pemeriksaan laboratorium dinilai penting untuk memastikan penyebab munculnya gejala pada para korban.
Sementara itu, Ketua Satgas MBG Rembang yang juga Wakil Bupati Rembang, M Hanies Cholil Barro', disebut belum memberikan keterangan ketika dikonfirmasi mengenai dua kejadian tersebut.
Persoalan dugaan keracunan setelah konsumsi makanan MBG juga terjadi di Kabupaten Blora. Pada Selasa (8/9/2026), sebanyak 136 siswa dan satu guru SMAN 1 Tunjungan dilaporkan mengalami keracunan. Menyikapi kejadian tersebut, Ketua Satgas MBG Kabupaten Blora Sri Setyorini mengusulkan agar SPPG Sukorejo 2 Blora ditutup sementara untuk menjalani pemeriksaan dan investigasi.
"Kita mengusulkan SPPG Sukorejo 2 ditutup dan dilakukan pemeriksaan serta investigasi total agar dapat diketahui sumber masalahnya," ujar Sri.
Menurutnya, SPPG tersebut sebelumnya telah mendapatkan dua kali peringatan. Insiden yang terjadi di SMAN 1 Tunjungan disebut menjadi kejadian ketiga.
Namun, Sri menjelaskan bahwa keputusan penutupan SPPG berada di kewenangan pemerintah pusat. Pemerintah daerah dan Satgas MBG daerah hanya dapat menyampaikan usulan.
"Kita hanya dapat mengusulkan," katanya.
Sementara itu, pihak SPPG Ngemplak menyampaikan permohonan maaf atas kejadian yang dialami siswa dan guru MAN 2 Rembang. Kepala Dapur SPPG Ngemplak, Raditya Ardi Pratama, mengatakan pihak pengelola bersama mitra telah melakukan penanganan terhadap para korban.
Ia memastikan biaya pengobatan korban ditanggung pihak mitra. "Seluruh biaya pengobatan pasien telah ditanggung sepenuhnya oleh pihak mitra, sehingga pasien dan keluarga tidak dibebani biaya selama menjalani proses perawatan," ujar Raditya.
Pengelola SPPG juga menyatakan akan melakukan evaluasi terhadap pelayanan dan meningkatkan standar operasional agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
"Kami akan bertanggung jawab semaksimal mungkin dan meng-cover seluruh biaya pengobatan. Kami sangat prihatin terhadap kondisi yang dialami para pasien," katanya.
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | 28284 |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |