
BLORA - Dugaan keracunan setelah menyantap program Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di SMAN 1 Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Sebanyak 136 siswa dan seorang guru dilaporkan mengalami sejumlah keluhan kesehatan, terutama diare dan pusing.
Kasus tersebut mulai diketahui pihak sekolah pada Selasa (8/9/2026), ketika sejumlah siswa tidak masuk karena mengalami diare. Di lingkungan sekolah, petugas juga melihat beberapa siswa berulang kali menggunakan toilet.
Humas SMAN 1 Tunjungan Blora, Totok, mengatakan pihak sekolah kemudian melakukan koordinasi dan pendataan terhadap siswa yang mengalami gejala.
Setelah proses pendataan dilakukan, pihak sekolah mendapatkan 133 siswa dan satu guru yang mengalami keluhan. Tiga siswa lain yang tidak masuk sekolah karena diare juga turut diduga mengalami kondisi serupa. Dengan demikian, totalnya mencapai 137 orang.
Kepala SMAN 1 Tunjungan Blora, Yuni Ni’wati, mengatakan seluruh siswa yang menunjukkan gejala diarahkan berkumpul di aula untuk menjalani pendataan.
Sebagian besar dari mereka mengalami diare. Dari total 137 orang yang diduga terdampak, empat siswa kemudian dibawa ke rumah sakit berdasarkan rekomendasi tenaga medis.
Sementara siswa lainnya yang tidak menunjukkan gejala disebut berada dalam kondisi baik.
Makanan MBG yang dikonsumsi para siswa tersebut merupakan pasokan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukorejo 2. Menu tersebut disajikan pada Senin (7/9/2026), sehari sebelum keluhan kesehatan mulai teridentifikasi.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Sadimin, mengatakan pihaknya turut memantau perkembangan kasus tersebut. Penanganan terhadap para siswa dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Blora bersama Puskesmas Tunjungan.
Menurut Sadimin, sebagian besar siswa yang sempat mengalami keluhan telah diperbolehkan pulang. Saat ini, satu siswa masih menjalani perawatan di klinik.
Dugaan keracunan di Blora menambah daftar kasus kesehatan yang dikaitkan dengan pelaksanaan program MBG dalam beberapa waktu terakhir.
Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menyebut jumlah orang yang diduga mengalami keracunan akibat program tersebut telah mencapai 43.838 orang.
Koordinator Nasional JPPI Ubaid Matraji menilai kasus yang terus muncul menunjukkan perlunya evaluasi lebih mendalam terhadap sistem penyediaan dan pengawasan makanan MBG.
Ia juga menyoroti belum adanya penyedia MBG yang disebut telah diproses secara hukum terkait kasus-kasus tersebut.
Menurut Ubaid, pemerintah tidak cukup hanya mencatat jumlah korban, tetapi perlu memastikan aspek keamanan makanan dan perlindungan terhadap penerima program menjadi perhatian utama.
Ia menilai evaluasi yang dilakukan Badan Gizi Nasional (BGN) belum menunjukkan hasil yang memadai apabila kasus dugaan keracunan masih kembali terjadi.
Di tengah munculnya kasus di sejumlah daerah, BGN pada Senin (7/9/2026) menutup sementara 1.999 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Penutupan dilakukan terhadap dapur yang belum mendaftarkan diri untuk memperoleh Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Sertifikat tersebut disebut BGN sebagai salah satu persyaratan wajib bagi SPPG yang menjalankan layanan MBG.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan ribuan dapur tersebut bukan sekadar belum memenuhi persyaratan SLHS, tetapi belum melakukan pendaftaran sama sekali kepada dinas kesehatan di wilayah masing-masing.
BGN sebelumnya melakukan penyisiran terhadap puluhan ribu SPPG. Dari jumlah awal 27.485 dapur, penetapan sementara kemudian menjadi 27.022 dapur.
Berdasarkan pembaruan data hasil koordinasi dengan Kementerian Kesehatan per 7 September 2026 pukul 17.00 WIB, terdapat 1.999 SPPG yang belum mendaftarkan diri untuk memperoleh SLHS
| Alamat | : | Jl. Amanah Perhentian Marpoyan |
| Kode Pos | : | 28284 |
| : | 082173544002 | |
| : | admin@kabarsurya.com |